Indonesian Authors

Komunitas Story Writer Indonesia
 
HomePortalFAQSearchMemberlistRegisterLog in

Share | 
 

 [Oneshot] Nelli

Go down 
AuthorMessage
eve

avatar

Posts : 30
Coins : 5843
Reputation Points : 0
Join date : 2010-08-26
Age : 27

PostSubject: [Oneshot] Nelli   Sun Aug 29, 2010 3:50 pm

NELLI


3.096.422.400
3.096.422.401
3.096.422.402
3.096.422.403

Cahaya?

Benarkah itu cahaya?

Sampai di mana hitunganku tadi?

Ah, cahaya itu mengganggu hitunganku. Bukan! Cahaya itu justru menghentikan hitunganku. Lagipula, sejak kapan aku mulai menghitung? Sejak terakhir kali aku melihat cahaya? Ataukah sejak tempat ini diselimuti kegelapan? Rasanya sama saja.

Ah

Cahaya itu membawa masa lalu.

Membawaku ke masa sebelum aku mulai menghitung seperti orang gila. Bayangan wajah Pak Scott berkelebat dalam sabuk nostalgiaku. Dalam sekejap bayangan itu berubah menjadi puluhan wajah lain. Puluhan wajah yang tidak mungkin kulupakan.

Charles, bagaimana kabarmu sekarang?

Ku coba meluruskan tubuhku yang selama ini terus meringkuk dalam kegelapan. Tanganku kugerakkan kedepan, membuatku teringat pada benda yang memisahkanku dengan dunia. Aku tidak membenci benda ini, aku pernah bersyukur bisa berada dalam benda ini.

Gelembung-gelembung udara bergerak cepat melewati tubuhku. Kalian mungkin sudah bisa menebak di mana aku sekarang.

Ya, aku berada dalam sebuah tabung berisi cairan yang sama sekali tidak kuketahui apa. Tapi mereka bilang cairan inilah yang membuatku tetap hidup. Rasanya sudah lama sekali.

"1773u, bagaimana perasaanmu?"

Suara Pak Scott terdengar nyaring ditelingaku, memaksaku berbalik ke tempat di mana dia biasanya berdiri sambil memegang kertas dan pulpen. Tapi yang kulihat hanyalah ruangan kosong dengan kertas putih berserakan di mana-mana. Tidak ada Rocky yang biasanya tersenyum jahil sambil menggodaku. Tidak ada Elfraim yang dengan serius mencatat data di monitor yang terus menyala di samping tabungku. Tidak ada Joe yang terkadang dimarahi oleh Pak Scott karena lupa memfoto copy data penelitian.

Dan tidak ada wajah polosmu yang terus mengajakku bercerita.

Aku menghela nafas panjang, meski yang masuk ke dalam saluran pernafasanku bukanlah udara melainkan air.

Aku rindu

Aku rindu

Aku rindu pada tawa kecilmu. Aku rindu celoteh mu yang menceritakan bagaimana kamu mengalahkan Joe dalam permainan kartu. Aku rindu tangan kekarmu yang mengusap tabung tempatku berada. Aku rindu matamu yang bersinar terang penuh semangat. Aku rindu rambut hitammu yang selalu berkilau diterpa lampu neon ruangan lab. Aku rindu senyum ringanmu yang selalu membuatku bersemangat saat rasa sepi menelusupi dadaku.

"Nelli!" Suara itu kembali terngiang di gendang telingaku. "Mulai saat ini aku akan memanggilmu Nelli."

Nelli? Kedengaranya menyenangkan. Tapi kenapa?

"lihat saja tulisan di tanganmu. 1773u." Tangan kekar itu menunjuk tanganku yang selalu terlipat. "Kalau dilihat terbalik bisa dibaca NELLI."

Aku tidak begitu mengerti apa yang kamu maksud. Tapi aku senang. Aku yang tidak pernah punya nama. Aku yang tidak pernah mengenal apa itu orang tua. Aku yang selama ini selalu sendiri. Aku yang selama ini tidak pernah punya apa-apa.

"Apa maksudmu dengan tidak punya apa-apa?" Suara serakmu sedikit meninggi. "Kau tidak pernah sendiri! Kau punya aku!"

Kau punya aku!?

Ah~

kata-katamu itu hingga kini masih terus kusimpan. Kata-kata itulah hartaku yang paling berharga setelah nama yang kau berikan padaku.

Tapi kenapa kamu pergi? Kenapa kalian semua pergi? Kenapa aku ditinggal sendiri?

Cahaya itu berkelebat sekali lagi. Membuatku tersadar dari kata-kata bodoh yang baru saja aku ucapkan.

Tidak! Kamu tidak pernah meninggalkanku sendiri. Kamu hanya keluar sebentar dan pasti akan segera kembali dan aku akan terus menunggu di sini.

"Gawat! Pasukan pemberontak menyerang rumah sakit utama!" Rocky berlari dengan nafas terengah-engah ke dalam lab. "Sebentar lagi mereka pasti tiba di sini."

Wajah Pak Scott yang selama ini terus tenang berubah dalam sekejab. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi jelas yang terpampang di wajahnya adalah rasa khawatir bercampur takut. Dan hal yang sama juga terlihat di wajah seluruh orang dalam ruangan.

"Apa yang harus kita lakukan?" Joe mulai terlihat panik. Kertas yang tadi dia pegang kini telah berhamburan di lantai.

Sementara itu Elfraim terus diam. Tangannya dengan lincah menekan tombol-tombol di hadapannya.

Aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi. Kamu juga tidak ada di sini untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi padaku. Kemarin kamu hanya bilang kalau kamu akan tugas jaga sebentar. Dan kamu akan segera kembali.

Aku sama sekali tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di luar sana . Sejak aku bisa mengingat, aku sudah ada dalam tabung ini. Tapi jelas kata 'pemberontak menyerang' bukanlah keadaan yang baik.

"Nelli, kami harus pergi ke rumah sakit utama." Pak Scott berkata sambil berlari ke arah pintu bersama dengan yang lainnya. "Tetaplah di sini sampai Charles datang!"

Ya.

Seperti yang Pak Scott dan kamu bilang. Aku akan terus di sini sampai kamu datang.

Terus di sini.

***

Hujan peluru dari para pemberontak brengsek itu sama sekali tidak berhenti. Sesekali aku balas menembak dengan senjataku yang jelas kalah jauh dari mereka.

Sebenarnya apa yang mereka pikirkan hingga menyerang rumah sakit seperti ini? Apa mereka mengincar Nelli?

Sial!

Aku hanya bisa membanting senjataku yang kehabisan peluru di saat yang salah. Sementara hujan peluru dari pasukan pemberontak tidak pernah berhenti.

"Charles!"

Suara Pak Scott dari kejauhan sedikit memberiku rasa lega. Meski dia sama sekali tidak membawa senjata, tapi dengan adanya dia di sini, berarti Nelli masih baik-baik saja.

Sepertinya Joe dan Rocky mengambil rute lain ke dalam rumah sakit. Meski sudah tiga tahun bekerja di Lab, bagaimana pun mereka adalah prajurit terlatih. AKu tidak perlu mengkhawatirkan mereka. Aku percaya mereka pasti selamat. Yang perlu aku akhawatirkan sekarang adalah bagaimana cara mencegah pasukan pemberontak itu agar tidak bisa maju.

"Pak Scott, apa Nelli baik-baik saja?"

Pak Scott tersenyum kepadaku. Senyum yang bagiku terasa penuh arti. Dia memang tidak menjawab pertanyaanku, tapi dari senyuman itu aku bisa percaya kalau Nelli akan baik-baik saja.

"Charles, aku sudah mengaktifkan sistem pengaman. Tapi mungkin lebih baik kalau kau ke sana untuk memastikannya."

Kata-kata itulah hal terakhir yang kudengar sebelum sebuah peluru mortir meledak tepat di hadapan kami.

***

3.096.422.404
3.096.422.405
3.096.422.406
3.096.422.407

Cahaya tipis itu mulai menipis.

Charles, kenapa kamu masih belum datang?

Tapi, aku percaya padamu. Aku akan terus berada di sini. Menantimu tuk datang menjemputku.

***
Back to top Go down
View user profile http://3knot.kemudian.com
 
[Oneshot] Nelli
Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» The Book - Amour Oneshot
» Verdandi's Haruka/Michiru Oneshot
» Tsuki's HaruMichi Oneshot (one of my works)
» The Crafty Cracker's Fan fics
» Strawberry Panic: Bikini Time (oneshot)

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Indonesian Authors :: Stories :: Original Story-
Jump to: