Indonesian Authors

Komunitas Story Writer Indonesia
 
HomePortalFAQSearchMemberlistRegisterLog in

Share | 
 

 [Oneshot] Fragment

Go down 
AuthorMessage
eve

avatar

Posts : 30
Coins : 5665
Reputation Points : 0
Join date : 2010-08-26
Age : 26

PostSubject: [Oneshot] Fragment   Sun Aug 29, 2010 3:52 pm

Fragment

lagi-lagi benda ini menahanku...
meski begitu, aku sam sekali tidak menganggap kalau benda ini adalah belenggu..
bagaimanapun benda ini adalah pemberianmu...
dan semua yang kau berikan padaku bukanlah beban melainkan anugerah...
tapi kenapa?
ah...
makin aku pikirkan makin kabur semua kenyataan dihadapanku...
aku berpaling ke sebelah kanan untuk menatap ruangan kosong ini...
cahaya remang-remang menyergap mataku...
entah sudah berapa lama sejak terakhir kali cahaya memasuki tempat ini...
aku mencoba meraih cahaya itu...
tapi lagi-lagi rantai ini menahanku...
membelenggu kedua kaki dan tanganku...
dan aku terjatuh...
meski tak ada rasa sakit yang kurasakan, tapi tetap saja aku terjatuh...
mata bituku menatap arah datangnya cahay itu...
mengharapkan kamu berada di sana...
sama seperti dulu...

"Kamu sedang apa?"

suara lembutmu menelusup melalui gendang telingaku. aku mendongak ke
arah sumber cahaya itu, meski sosokmu sama sekali tidak di sana.

menurutmu apa alasan aku terlahir kedunia ini?

"wah, itu jawaban yang mungkin sedikit susah."

kamu lalu mengelus wajahku dengan senyum penuh arti. Meski aku sama sekali tidak mengerti arti dari senyumanmu itu.

"Dari mana kamu mendapatkan pertanyaan serumit itu?"

entahlah...

aku juga sama sekali tidak tahu darimana aku bisa memikirkan pertanyaan
seperti itu. Sejauh yang bisa aku ingat, aku sudah berada dalam ruangan
ini. Bermandikan cahaya biru di atas pembaringan ini.

dulunya juga aku sama sekali tidak peduli dengan apa yang berada di
luar sana. Bagiku ruangan ini adalah duniaku. Sebuah dunia yang
dibatasi oleh dinding putih bersih dan langit-langit tinggi yang
sepertinya tak berhenti memancarkan cahaya.

aku sama sekali tidak peduli...

dan kamu pun datang...

menghancurkan dinding yang selama ini menjadi duniaku...

menghancurkan tatapan kosong yang selama ini menaungi kedua bola mataku...

menghancurkan belengu yang selama ini terus mengikat hatiku...

meski kau membiarkan benda ini melekat di kedua kaki dan tanganku...

"Menurutmu kenapa aku bisa terlahir ke dunia ini?"

entahlah...

bagaimana mungkin aku bisa tahu alasan kamu terlahir kedunia ini sat aku sendiri tidak tahu alasan aku bisa terlahir ke dunia?

"kau tahu, temanku pernah berkata seperti ini..."

kamu memalingkan wajah, menatap lubang yang dulunya kau buat untuk bisa
masuk ke dalam 'duniaku'. Mungkin sedikit aneh, tapi bagiku, tatapanmu
terlihat sedikit sepi...

"setiap manusia memiliki pasangannya. dan kamu tercipta untuk pasanganmu itu."

manusia?

tapi apa aku ini bisa dibilang manusia?

"kamu bicara apa?"

dengan keadaan seperti ini apa aku masih pantas disebut manusia? dengan
semua belenggu ini apa aku bisa disebut manusia? dengan tubuh seperti
ini apa aku bisa dibilang manusia?

"dasar bodoh..."

masih bisa kuingat halusnya tanganmu membelai pipiku. dengan senyum yang sekali lagi penuh arti kamu pun berkata.

"bagi kamu lebih 'manusia' dibanding mereka yang selama ini pernah aku temui."

aku terdiam.

mencoba mencerna apa yang baru saja kau katakan.

bukannya aku meragukan kata-katamu. hanya saja aku... aku...

"kamu tidak percaya padaku?"

bukannya begitu. hanya saja...

"Sudahlah, kamu tidak usah terlalu memikirkan hal itu."

dengan langkah ringan kamu berjalan ke arah cahaya itu. dan kamu pun
memasuki wilayah di mana aku tidak bisa mencapaimu. apa kamu
meningalkanku?

"tidak, tentu saja tidak." kamu menghentikan langkahmu lalu berbalik. "aku akan kembali lagi besok."

dan kamu pun menghilang...

dan aku kembali tenggelam dalam pertanyaan...

apa alasan aku tercipta ke dunia?

tapi jawaban atas pertanyaanku tidak kunjung datang hingga kamu kembali
kehadapnku dengan nafas terengah-engah dan peluh yang membasahi jaket
hijau mu.

tanpa banyak bicara kamu menekan tombol yang berkelap-kelip di samping tempatku terbaring.

apa yang terjadi?

kenapa kamu terlihat begitu panik?

kamu hanya diam mendengar pertanyaanku yang tak pernah berhenti
mengalir. tak ada satu pun jawaban yang kau berikan. dan pada khirnya
aku menyerah mencoba menjari jawaban darimu.

kamu terus menekan tombol-tombol yang berjejer dihadapanmu dengan
serius. sesekali kamu mencabut kabel di bawah pembaringanku dan
menyambung kabel lain. aku tidak mengerti dan makin tidak mengerti
karena diam mu.

"apapun yang terjadi, jangan turun dari pembaringan ini?"

kenapa?

"keadaan di luar terlalu berbahaya..."

tapi kenapa kamu justru berjalan ke luar?

Kamu terdiam lalu tersenyum ke arahku. kali ini aku bisa merasakan kehangatan di bola matamu.

"karena aku haru smelindungi tujuanku tercipta di dunia ini."

kamu lalu menekan sebuah tombol merah di tangan kirimu. dan sebuah kabel tertancap ke belakang leherku.

ini bukan rasa sakit. aku bahkan tidak tahu rasa sakit itu apa. kalau
begitu ini apa? kenapa terasa begitu tidak mengenakkan. dan kenapa air
mataku tidak bisa terhenti.

sebenarnya apa yang terjadi?

"tidak usah khawatir, besok aku pasti kembali..."

kamu lalu berbalik, ketempat di mana kamu selalu datang. kearah cahaya
terang yang entah kenapa saat ini makin meredup. Untuk sejenak kamu
berbalik, menatap mata biru ku yang yang tak berhenti meneteskan air
mata.

aku makin tidak mengerti apa yang terjadi...

yang kutahu, kamu menyuruhku untuk menunggu di tempat ini. dan aku pasti akan menunggu hinga kamu kembali.

dan kamu pun menghilang bersama cahaya itu.

aku membiarkan benda ini terus melekat di kedua tangan dan kakiku. dan
duniaku kembali seperti dulu. Sebuah dunia yang dibatasi oleh dinding
putih bersih dan langit-langit tinggi yang sepertinya tak berhenti
memancarkan cahaya.

tapi perlahan-lahan duniaku juga berubah. langit-langit itu perlahan
tapi pasti mulai kehilangan cahayanya. apa dia sudah lelah menemaniku
menunggumu. aku tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu. begitu aku
membuka mataku, cahaya itu sudah hilang sama sekali.

kini aku terdiam dalam kegelapan. menantimu untuk datang menjemputku.

saat semuanya makin kabur, cahaya remang-remang itu menyergap mataku...

entah sudah berapa lama sejak terakhir kali cahaya memasuki tempat ini...

aku mencoba meraih cahaya itu...

tapi lagi-lagi rantai ini menahanku...

membelenggu kedua kaki dan tanganku...

dan aku terjatuh...

meski tak ada rasa sakit yang kurasakan, tapi tetap saja aku terjatuh...

mata biruku menatap arah datangnya cahaya itu...

mengharapkan kamu berada di sana...

sama seperti dulu...

perlahan kucoba meraih cahaya itu...

aku merangkak sedikit demi sedikit...

mengharapkan kamu akan menyambutku dengan senyum manis penuh arti mu...

aku tidak mengerti kenapa dan bagaimana...

tapi air mata tak berhenti keluar dari mata biru ku...

aku terus merangkak, meski benda di kedua tangan dan kakiku terus berusaha menghentikanku...

aku tidak peduli...

yang kuingin saat ini adalah bertemu denganmu...

benda ini juga sepertinya sudah lelah berusaha menahanku...

tangan dan kakiku terasa makin ringan...

gerakanku terasa makin cepat...

aku terus bergerak ke arah cahaya itu...

hingga pada akhirnya tanganku bisa meraih cahaya itu...

dan semua menjadi hitam...
Back to top Go down
View user profile http://3knot.kemudian.com
 
[Oneshot] Fragment
Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» The Book - Amour Oneshot
» Verdandi's Haruka/Michiru Oneshot
» Tsuki's HaruMichi Oneshot (one of my works)
» The Crafty Cracker's Fan fics
» Some things to now about SAO

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Indonesian Authors :: Stories :: Original Story-
Jump to: